GameHolic – Bigetron by Vitality berhasil menjadi juara FFWS SEA 2026 Fall setelah mengamankan Booyah pada Game 12 Grand Finals.
Kemenangan ini menjadi puncak perjalanan penuh tekanan yang melibatkan penalti, pergantian pemain, hingga perubahan strategi pada pertandingan terakhir.

Penalti Jadi Tekanan Sebelum Grand Finals
Bigetron harus memulai Grand Finals tanpa Headstart Point setelah menerima pengurangan 10 poin pada Point Rush Stage. Tim juga mendapat pengurangan lima persen hadiah akibat pelanggaran terkait pemanfaatan bug.
Menurut Chrisjo, keputusan tersebut sempat memengaruhi kondisi emosional tim. Namun, Bigetron memilih mengubah kekecewaan itu menjadi motivasi untuk tampil maksimal.
Kyongg Kembali untuk Game 12
Sebelum pertandingan penentuan, Bigetron juga melakukan pergantian pemain.
Pada Game 11, Tiuszz masuk menggantikan Kyongg. Perubahan tersebut dilakukan karena tim membutuhkan pemain yang bisa bermain lebih dekat dengan Fellow.

Namun, hasilnya belum sesuai harapan. Setelah melakukan evaluasi, Kyongg kembali dimainkan pada Game 12.
Keputusan tersebut akhirnya memberikan hasil positif. Kyongg mampu membantu Bigetron menjalankan rencana permainan hingga fase akhir.
Chrisjo Minta Bigetron Lebih Berani
Menurut Chrisjo, Bigetron bermain terlalu lambat pada beberapa pertandingan sebelumnya. Tim terlalu fokus pada zoning dan rotasi sehingga kehilangan kesempatan mendapatkan eliminasi.

Karena itu, instruksi sebelum Game 12 dibuat sederhana: lebih berani mengambil fight dan tidak terlalu lama ragu ketika peluang muncul.
Bigetron kemudian bermain lebih aktif. Mereka terus bergerak dan memberikan tekanan kepada lawan, bukan hanya menunggu zona atau kesalahan tim lain.
Booyah Game 12 Bawa Gelar Juara
Pada fase akhir Game 12, empat tim masih memiliki peluang menjadi juara, yaitu GOW, AG.AL International, RRQ Kazu, dan Bigetron.

Bigetron menjadi salah satu tim yang paling aktif memberikan tekanan. Meski sempat kehilangan pemain dan berada dalam kondisi kritis, koordinasi tim, Healing Gun, serta Gloo Wall membantu mereka bertahan.
Hingga akhirnya, Bigetron mengamankan Booyah Game 12 sekaligus memastikan gelar FFWS SEA 2026 Fall.
Kemenangan yang Berarti di Surabaya
Bagi Chrisjo, kemenangan ini memiliki arti khusus karena Surabaya menjadi bagian dari perjalanan panjang Bigetron.
Sebelumnya, Bigetron pernah mengalami kegagalan di FFWS ID 2024 Spring dan harus kembali berjuang dari FFNS. Mereka kemudian membangun perjalanan dari turnamen grassroots hingga kembali tampil di panggung FFWS SEA.

Karena itu, kemenangan di Surabaya menjadi momen redemption bagi tim.
Chrisjo juga mengakui bahwa format Champion Rush tetap memiliki faktor keberuntungan. Namun, menurutnya, tim tidak boleh hanya menunggu keberuntungan.
Bigetron memilih menciptakan peluang dengan terus bergerak dan mengambil keputusan berani.
Booyah di Game 12 akhirnya menjadi penutup sempurna bagi perjalanan tersebut. Bigetron by Vitality resmi menjadi juara FFWS SEA 2026 Fall dan membawa pulang gelar juara Asia Tenggara.
































