GameHolic – Tahun 2026 menjadi periode menarik bagi industri game. Beberapa game single-player seperti Pragmata, Resident Evil Requiem, Crimson Desert, dan Far Far West berhasil mencatat performa penjualan yang kuat. Namun, kondisi berbeda justru dialami oleh Sega.
Dalam laporan keuangan terbaru untuk tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2026, Sega mengungkapkan bahwa performa game live-service mereka tidak sesuai harapan. Salah satu judul yang disebut memiliki hasil kurang memuaskan adalah Sonic Rumble Party.
Selain itu, beberapa proyek game yang belum diumumkan juga mengalami penundaan pengembangan.
Proyek “Super Game” Resmi Dibatalkan
Kabar paling mengejutkan datang dari pembatalan proyek misterius bernama “Super Game”. Proyek ini pertama kali diumumkan pada 2021 sebagai kolaborasi antara Sega dan Microsoft dengan memanfaatkan layanan cloud Azure.
Meski detail game tersebut tidak pernah diungkap secara penuh, proyek ini disebut-sebut memiliki ambisi besar sebagai game generasi baru berbasis layanan online.

Sega dikabarkan telah menyiapkan anggaran hingga USD 882 juta untuk pengembangan “Super Game”. Perusahaan juga menargetkan pendapatan lebih dari ¥100 miliar atau sekitar USD 634,5 juta dari proyek tersebut.
Namun kini, Sega memastikan proyek itu resmi dihentikan tanpa tambahan biaya pembatalan yang signifikan.
Sega Akan Fokus ke Game Single-Player
Setelah pembatalan proyek besar tersebut, Sega menyatakan akan meninjau ulang strategi pertumbuhan jangka menengah dan panjang mereka. Salah satu langkah utama yang diambil adalah menurunkan prioritas pengembangan game free-to-play dan game-as-a-service (GaaS).

Sebagai gantinya, lebih dari 100 staf pengembang akan dipindahkan ke divisi “Full Game”. Langkah ini menunjukkan bahwa Sega ingin kembali fokus pada model game tradisional, terutama pengalaman single-player dengan narasi yang kuat.
Strategi ini dinilai cukup masuk akal mengingat pasar game single-player saat ini kembali menunjukkan pertumbuhan positif.
Industri Game Mulai Bergeser?
Keputusan Sega bisa menjadi sinyal bahwa industri game mulai kembali melirik kekuatan game premium single-player.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak publisher besar berlomba mengembangkan live-service game. Namun, tidak semua proyek berhasil mempertahankan pemain dalam jangka panjang.
Sebaliknya, game dengan cerita kuat dan pengalaman bermain mendalam justru kembali mendapatkan perhatian besar dari gamer global.
Meski Sega memperkirakan kerugian masih akan meningkat pada tahun depan akibat investasi pengembangan game baru, perusahaan optimistis penjualan game full premium akan tumbuh lebih baik di masa depan.
Jika strategi ini berhasil, bukan tidak mungkin Sega akan kembali menjadi salah satu publisher terkuat di era kebangkitan game naratif premium.
Sumber: Sega Financial Report via TechPowerUp






























